Home   Artikel Mental Sejahtera Menuju Mahir Literasi & Numerasi

Mental Sejahtera Menuju Mahir Literasi & Numerasi

~Resume Webinar Smart Parenting~

~Mental Sejahtera~
Ungkapan, “gambarnya kok itu-itu saja,” akan berbeda dengan, “Ada gambar yang lain ngga, nak?” Banyak cara yang bisa dilakukan parent dalam menarasikan ungkapan komunikasi dengan anak, baik itu berupa teguran maupun perintah dalam pengasuhannya yang bisa berdampak pada perkembangan anak. Mengembangkan potensi anak bisa dilakukan dengan memberi penghargaan pada karya/upayanya, mengapresiasi prosesnya bukan hasilnya bagus atau tidak, Ini bisa membuat mereka happy, apalagi sampai mengoleksinya. Kesejahteraan mental dimulai dari upaya membantu mengembangkan kepercayaan diri anak dan kemandiriaanya.
Support lingkungan terdekat yang membahagiakan inilah yang bisa mengantarkan potensi menjadi ability lalu pada tahap perkembangan selanjutnya menjadi spesifik ability (bakat), kondisi terbaiknya. Setiap anak harus melalui tahapan discovering ability tersebut. Pada masa ini anak tidak boleh dibatasi kemampuannya, mereka unik, jadi tidak kondusif kalau malah distandarkan, disamaratakan. Menghargai perbedaan itulah yang pada akhinya mendukung kesejahteraan psikologis mereka. Anak sejahtera berarti anak terlepas dari segala ganguan, bisa atau tidak bisa mereka tidak tertekan. Artinya suatu kondisi secara mental anak tidak merasa ‘dipaksa’ untuk bisa, dia nyaman saja ketika mengikuti pembelajaran di kelas, misalnya, karena tidak terancam bullying karena tidak bisa.
~Literasi Numerasi~.
Pada banyak kejadian, ditemukan kemampuan matematika dan literasi anak baik2 saja, tapi malah emosinya yang bermasalah.😊
√ Berliterasi artinya memberi kesempatan mengeluarkan isi pikiran diantaranya melalui metode pembelajaran project based learning. Project based learning memungkinkan untuk memberi muatan literasi & numerasi.
Karena pada prakteknya, PBL memberi kesempatan siswa mengeluarkan isi pikirannya, melalui diskusi untuk menghasilkan karya, berkolaborasi dan mempresentasikan hasil karyanya. Banyak hal yg bisa didapat, utamanya dalam mengembangkan berbagai soft skills.
Pada akhirnya Kita tahu bahwa belajar itu artinya menghubungkan pengetahuan dan pengalaman, dalam arti berinteraksi dengan objek2 pengetahuan (hands on activity) dalam rangka mengkonkretkan bahan ajar. Mengkonkretkan konsep Matematika dan Bahasa, misalnya, pembelajaran bisa dilakukan dengan melibatkan berbagai penginderaan, tidak selalu dalam bentuk mengerjakan soal/ worksheet. Mudah sulitnya matematika tergantung dari bagaimana mengajarkannya…

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*