Home   Artikel WORKPSHOP MONTESSORI – MATH

WORKPSHOP MONTESSORI – MATH

“….Sekitar 5.000 tahun yang lalu (3.000 SM) penduduk mesir kuno mendapatkan berkah karena berada di sekitar tepian sungai nil sehingga mereka dapat bercocok tanam dan mendapatkaNo automatic alt text available.n hasil pertanian yang sangat melimpah, namun sewaktu-waktu sungai nil dapat meluap dan membanjiri sawah mereka sehingga tanda yang mereka buat menjadi hilang, mereka butuh sesuatu untuk menandai batasan lahan milik mereka, dari situlah mereka mulai mencari solusi dengan cara mengukur batasan lahan mereka, dst…” (itulah salah satu penggalan sejarah diciptakannya angka dan perhitungan menurut salah satu versi)

Narasi tersebut merupakan bagian dari materi workshop 2 hari tentang “Matematika Montessori untuk SD Usia 6-9 Tahun”., bersama Mr. Darin Bicknell di Maple Tree Montessori School / Big Picture Montessori Training, Gading Serpong.
Dalam workshop itu kami disajikan serangkaian materi untuk mengajarkan matematika dengan konsep yang begitu rapih dan berurutan sesuai dengan level berpikir anak. Nah, ini yang menarik, dalam kurikulum matematika montessori, materi dimulai dengan narasi “The Story of Numbers”, setelah itu baru masuk ke materi yang berkaitan dengan angka2 dan operasi matematika.
Dalam sejarah angka diceritakan bagaimana mulanya manusia membutuhkan angka dan bilangan. Itulah mungkin bedanya pelajaran matematika konvensional dengan Montessori, semua dimulai dari gambaran besar sebuah konsep, jadi siswa betul2 tahu apa dan mengapa mereka belajar sesuatu, sehingga mereka akan menikmati Image may contain: 1 person, sitting and indoordan merasakan manfaat dari apa yang mereka pelajari dalam kehidupan mereka sehari2 dan kelak ketika mereka dewasa bekal tersebut dapat diterapkan di lingkungan masyarakatnya.
Selanjutnya setelah mengetahui sejarah angka, siswa juga diberi kesempatan untuk melakukan aktivitas yang berhubungan dengan sejarah angka tersebut, mereka diberi ruang utk berkreasi dengan angka yang mungkin saja mereka inovasi sendiri, bertindak seolah-olah mereka berada di zaman sebelum ditemukan angka dan mereka berusaha membayangkan bagaimana memenuhi kebutuhan akan jumlah, bilangan, dan yang berkaitan dengan ukuran. Dalam PBM di kelas diantaranya bisa melahirkan aktivitas siswa tentang bagaimana memecahkan masalah tersebut dengan diajak untuk menciptakan sendiri simbol-simbol layaknya orang zaman dahulu.
Mr. Bicknell, dalam presentasinya menyampaikan bahwa kurikulum matematika Montessori disusun dengan sangat berurutan sesuai dengan peta berpikir otak manusia, yang melibaImage may contain: one or more people, people sitting, table and indoortkan alat peraga Montessori (hands on), membuat siswa yang belajar tidak hanya pandai matematika, juga dapat mengorganisasikan pikiran mereka, sehingga ketika dewasa semua matematika yang sudah mereka pelajari dapat membentuk peta pikiran di otak mereka dan menetap seumur hidupnya, disamping mereka juga punya cara pandang dan cara berpikir logis dan rapi sehingga ketika dewasa dapat mengatur dirinya, bertanggung jawab atas pendidikan dirinya, berargumen dengan benar, serta dapat menyelesaikan persoalan dalam hidupnya, bahkan dapat membantu mencarikan solusi ketika teman2 disekitarnya bermasalah… Image may contain: one or more people, people sitting, table and indoor
“If there was a person like Einstein in the past time, why don’t we let our students become new ‘Einstein’.”, kata Mr. Bicknell. Kita bisa menyaksikan contoh hasil didikan montessori, diantaranya pendiri Google, Larry Page & Sergeyrin, bukankah mereka bagaikan Einstein zaman now?….

Image may contain: one or more people, people sitting, table and indoor
Image may contain: 1 person, sitting and indoor
+2
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*