Home   Artikel You’re Still You…Montessori (1870-1952)

You’re Still You…Montessori (1870-1952)

You’re Still You…
— Montessori

Kehancuran tatanan sosial, ekonomi, lingkungan, dan lain-lain pasca perang dunia membuat suasana muram terjadi di mana-mana dan menimpa banyak kalangan, termasuk anak-anak. Mereka harus menghadapi kenyataan lingkungan fisik yang porak poranda akibat perang yang dipaksakan segelintir politisi busuk itu. Sebagian besar dari mereka terpaksa harus kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarganya. Kala itu suasana pilu menyelimuti batin anak-anak di banyak belahan dunia, khususnya di Eropa. Di sudut kota Roma, Italia, seorang pendidik perempuan bernama Montessori, menghampiri anak-anak yang tertimpa musibah, di tempat dia mengajar. Dia berusaha memberi motivasi yang menggugah semangat hidup mereka. Dia berujar, “Anak-anakku, sesungguhnya kamu tidak dilarang memiliki rumah yang bagus, luas, indah, dan nyaman, tapi jika kamu kehilangan rumah, ketahuilah bahwa kamu tetaplah dirimu!, hidupmu tetaplah berharga, dirimulah sumber dari keindahan, kalian bisa menciptakan keindahan, kalian bisa membangun rumah, dan kalian pun sanggup mewujudkan kenyamanan”.

Montessori (1870-1952) adalah seorang dokter, saintis, yang kemudian dikenal di dunia pendidikan sebagai pencetus metode montessori, sebuah pendekatan (approach) yang menargetkan pecapaian hasil didik yang luar biasa, antara lain memiliki rasa diri-bermakna (sense of self worth), independence,
rasa diri berpotensi mempelajari banyak hal dalam kehidupan, sekaligus melakukan berbagai hal dengan baik.

Pendidikan ala Montessori memang memiliki pandangan yang khas tentang makna kehidupan. Montessori tertarik pada pendekatan kehidupan yg lebih bersifat spiritual dan seimbang (jasmani – ruhani). Dia tidak anti materi tetapi juga tidak materialistik.

Selanjutnya Montessori berpikir Dan bekerja keras berusaha menghasilkan manusia-manusia yang hidup secara spiritual dalam arti pendekatan keagamaan yang lebih tinggi derajatnya, bukan hanya sekedar beragama atas dasar ketakutan (fear-based religion), misalnya takut masuk neraka jika berbuat dosa, tetapi meningkat pada pendekatan keberagamaan atas dasar cinta (love-based religion).

Dalam pendekatan pendidikannya, Montessori berupaya menciptakan suatu kondisi yang memberikan rasa senang (a sense of joy), rasa kemeriahan (a sense of celebration), bahkan rasa yang lebih dari itu semua yaitu rasa “aha!”, dan rasa takjub ( a sense of wonder). Tetapi semua itu tidak dimaksudkan membuat manusia merasa kecil, rendah dan menganggap diri tidak berharga serta tidak memiliki kekuatan, tapi lebih pada mengatakan bahwa kalian milik dunia ini (you belong to this earth), hidup ini berharga dan bermakna (life has value and meaning), kalian perlu menghargai diri sendiri, menghargai ibu dan ayahmu, menghargai bumi ini, menghargai orang lain, kalian perlu menghidupkan kehidupanmu (live your life)….
Pantaslah bila Montessori di sekolahnya bicara pada siswa2nya, ” You’re still you, your life is still worth living, you are the source of beauty, you can create beauty, you can create a home, you can create comfort”…

SalehBagir_Pulomas_Crb
_120318

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*